Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Peristiwa di Gua Hira’
Apabila berbincang tentang wahyu pertama, kebanyakan dari kita mudah sahaja dapat menekanya. Iqra’! Itulah seruan pertama yang diturunkan Sang Pencipta kepada umat manusia, melalui Nabi Muhammad S.A.W.

Namun apakah signifikasi wahyu tersebut sebagai wahyu yang pertama? Bukankah Islam itu tertegak atas lima rukun Islam dan enam rukun Iman? Mengapa tidak rukun-rukun ini dijadikan antara seruan yang pertama?
Mari kita baca dan berfikir sejenak wahyu yang pertama diturunkan, yang menjadi titik tolak kepada perjuangan menegakkan syiar Islam dalam kalangan umat manusia.
"Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang Amat Pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan (menulis, membaca). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya."
(Surah Al-Alaq:1-5)
Signifikasi 1:
Dengan turunnya ayat-ayat ini, ia menjadi kalam Allah yang pertama dibicarakanNya kepada manusia, iaitu Nabi Muhammad S.A.W.
Bermula dari saat ini, tiada lagi tali yang terputus dari ikatan antara langit dan bumi, tiada lagi jurang untuk kalam Allah S.W.T. dibicara dengan adanya perantara yakni Jibrail A.S.
Tiada lagi jalan kebuntuan bagi mereka yang menginginkan bicara dan hikmah dari Ilahi.
Alhamdulillah, ia suatu rahmat bagi umat manusia.
Rasionalnya?
Tidak akan pernah kehidupan manusia menemui jalan buntu sekiranya bertemankan Allah S.W.T. setiap masa. Kuncinya? Doa dan pengharapan, usaha dan tawakal, dan redha dengan segala ketentuan yang pasti datang dari Tuhan yang Maha Adil, mustahil ingin berlaku zalim terhadap hambaNya.
Sungguh kasih Ilahi itu lebih agung dan mulia, kekal selamanya berbanding kasih insani yang berubah dari semasa ke semasa. Seperti apa yang diperkatakan:
“Barang siapa yang menyangka sifat kasih sayang Allah terpisah dalam takdir-Nya, maka itu adalah kerana pendeknya penglihatan akal dan mata hati seseorang”.
(Ahli Hikmah, Ibn Atoillah)
Bukan niat penulis untuk menidakkan umat manusia hidup berteman, bersahabat, atau berkawan di dunia, malahan berkeluarga. Namun, suatu perkara yang manusia seringkali terlepas pandang adalah untuk mengejar kasih Ilahi mengatasi segalanya.
Firman Allah S.W.T. mafhumnya:
“Orang-orang yang beriman itu sangat kuat kecintaannya kepada Allah.”
(Surah Al- Baqarah:165)
Sungguh petunjuk Ilahi itulah yang perlu kita damba. Hanya dengan kepercayaan terhadap hikmah yang tidak kita ketahui, yang dititipkan buat hambanya, atas segala apa yang berlaku, akan mempermudah jalan untuk menjalani kehidupan sebagai abdi yang sebenar. InshaAllah.
“Allah melapangkan bagi mu supaya engkau tidak selalu dalam kesempitan dan Allah menyempitkan bagi mu supaya engkau tidak hanyut dalam kelapangan, dan Allah melepaskan engkau dari keduanya, supaya engkau tidak bergantung kepada sesuatu selain Allah”.
(Muqarrabin)
Signifikasi 2:
Bermulanya rentak pembinaan agama yang satu yakni Islam, dengan diutuskan Muhammad sebagai Rasulullah yang menyeru kepada kebaikan dan menghindar dari kemungkaran, menunjuk jalan yang lurus lain dari jalan unjuran taghut, dan mengajak manusia menuju destinasi abadi yakni syurga dan bukan berakhirnya manusia di dalam neraka, juga mengingatkan manusia akan kejadian hari akhirat yang bakal berlaku supaya manusia bersedia menghadapinya dengan bekal amalan secukupnya.
Apa kaitannya dengan kita?
Sesungguhnya proses dakwah yang dimulakan Nabi tidak akan pernah terhenti, malah diwarisi tanggungjawab tersebut kepada Khulafa’ Ar-Rasyidin, kemudian para sahabat lainnya sehinggalah umat manusia hari ini yang bergelar Muslim.
"Katakanlah, inilah jalan (Deenku), aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) ke jalan Allah dengan hujjah yang nyata."
(Surah Yusuf:108)
Tanpa dakwah, tidak akan tertegak Islam sepertimana yang kita dapat lihat pada pengorbanan dan bakti utusan Allah S.W.T. yang terakhir suatu ketika dahulu, yang akhirnya melahirkan sebuah Negara Islam yakni Madinah lengkap dengan syariat Islam dan piagamnya tersendiri.

Dalam realiti hari ini, tuntutan dakwah menjadi suatu kewajipan melihatkan umat Islam yang semakin terasing dari gaya hidup dan sistem kehidupan yang diatur Allah S.W.T. untuk hambaNya.
Dalam situasi begini, perlu ada penggerak yang mengemudi bahtera dakwah untuk mengembalikan umat Islam kepada jalan yang benar.
Firman Allah S.W.T. mafhumnya:
"Dan hendaklah ada dikalangan kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyeru kepada makruf dan mencegah daripada yang mungkar, merekalah orang-orang yang beriman."
(Surah Ali-Imran: 104)
Signifikasi 3:
Membaca atau menuntut ilmu menjadi seruan utama dalam kehidupan umat manusia. Kerana dengan ilmu barulah hati terang dari kegelapan, dapat membezakan yang baik dan buruk, membuat pertimbangan ke atas segala apa yang berlaku tidak kira susah atau senang, dan mengenal Allah S.W.T. dan segala rahsia yang terselindung disebalik setiap kejadian, dari lapisan terbawah bumi sehinggalah langit yang tertinggi merangkumi segala isinya.

Imam Malik bin Anas pernah berkata mafhumnya:
“Yang bernama ilmu itu bukanlah kepandaian atau banyak meriwayatkan (sesuatu), melainkan hanyalah nuur yang diturunkan Allah ke dalam hati manusia. Adapun bergunanya ilmu itu adalah untuk mendekatkan manusia kepada Allah dan menjauhkannya dari kesombongan diri.”
Maka dengan itu, sebagai umat Islam yang bercita-cita tinggi untuk mendekatkan diri kepada Allah S.W.T. hendaklah sentiasa dahagakan ilmu.
Sabda Rasulullah S.A.W. yang bermaksud:
"Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga ke liang lahat"
Kita sebagai umat manusia yang serba lemah dan tidak berdaya, hendaklah sentiasa mencari ilmu tidak kira dimana sahaja kita berada.
Firman Allah S.W.T. yang bermaksud:
“Katakanlah : Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menuliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (dituliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).”
(Surah Al-Kahfi:109)
Kesimpulan
Itulah bicara pertama Allah S.W.T. kepada umat manusia, yang menghapus jurang antara Dia dan hambaNya, yang mengajak manusia kearah mengesakan Dia, juga yang memperingatkan tentang kepentingan menuntut ilmu semata-mata untuk lebih tunduk dan kenal Sang Pencipta.
(akan bersambung…)
aRifF.DaNiaL
No comments:
Post a Comment